Jumat, 19 Desember 2008

Semangat Gerakan Mahasiswa perlu dipertanyakan??

Mukhammad Latif

Teknik Elektro 2008

IKM Aktif 2008

Mahasiswa merupakan generasi muda moral dan intelektualitas yang mampu melakukan perubahan-perubahan nyata bagi bangsa Indonesia melalui kontribusi nyata yang dilakukannya. Kebangkitan bangsa ini merupakan suatu langkah cemerlang yang dulunya muncul dari kalangan mahasiswa untuk bangkit dari keterpurukan bangsa. Mahasiswa senantiasa bergerak dengan idealismenya demi memperjuangkan kepentingan rakyat. Gerakan mahasiswa terbangun karena adanya etika no blese oblige (Burhan D. Magenda, 1997) yang didefinisikan sebagai suatu etika yang terbangun atas dasar semangat militansi dalam upaya pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu, kepekaan mahasiswa terhadap permasalahan yang berfokus pada perjuangan membela kepentingan rakyat tumbuh karena beberapa hal, antara lain: mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik dan pandangan yang luas sehingga dapat bergerak di semua lapisan masyarakat; mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik selama menjalani kehidupannya di dunia kampus; mahasiswa dipandang sebagai kelompok elit dan golongan yang memiliki gaya hidup unik di kalangan kaum muda; mahasiswa dipandang sebagai kaum yang memiliki semangat dan idealism yang tinggi; serta mahasiswa rentan terlibat dalam pemikiran dan perdebatan sehingga memberi kesempatan mereka untuk dapat tampil dalam forum.

Namun, apa realita yang terjadi pada pergerakan mahasiswa saat ini?

Realita mengungkapkan jika gerakan mahasiswa-yang dulunya paling militan bahkan mempunyai daya dobrak yang sangat kuat terhadap dinamika pemerintahan Indonesia, seperti Gerakan Mahasiswa angkatan 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru-telah mengalami degradasi. Reformasi yang hanya bisa "Jalan Ditempat", artinya mahasiswa gagal dalam mengisi dan mengawali reformasi. Mahasiswa telah lengah dan membuang kesempatan untuk menyelamatkan bangsa ini yang sedang terjajah.

Fenomena melempemnya pergerakan mahasiswa pasca reformasi seakan-akan menunjukkan hilangnya roh dan semangat militant yang dulunya pernah berkharisma sepanjang sejarah bengsa Indonesia. Terdapat beberapa akar penyebab gerakan mahasiswa pasca reformasi kehilangan vitalitas perjuangan antara lain: terjadinya fragmentasi (perpecahan) intern dalam gerakan mahasiswa lantaran prinsip ideologi pada sekelompok mahasiswa yang condong mengarah pada "Perbedaan Idealisme" sehingga mengerucut menjadi perpecahan dalam pergerakan; munculnya kelompok mahasiswa yang Oportunis sehingga posisi mahasiswa dimanfaatkan untuk kepentingan individu tertentu; munculnya Apatisme di kalangan mahasiswa akan peranannya (sebagai Agent of Change, Iron Stock, dan Moral Forced). Hal ini mengakibatkan gerakan mahasiswa kehilangan roh dan mengalami dekadensi eksistensi di tengah masyarakat.

Lantas, bagaimana solusi untuk memanggil roh dan semangat kembali untuk melakukan pergerakan mahasiswa sebagaimana gerakan mahasiswa pada decade sebelumnya?

Pertama, membudayakan pemahaman sisi persamaan perjuangan dengan menerapkan sikap toleransi dalam perbedaan. Kedua, menjalin komunikasi antarsesama mahasiwa. Ketiga, membangun kembali independensi pergerakan mahasiswa mengingat mahasiswa adalah kelompok sejati, kuat, dan senantiasa berada di barisan terdepan dalam jajaran generasi muda. Keempat, membangun sikap kritis dan arif dalam memandang suatu permasalahan.

The big work (pekerjaan besar) yang harus dilakukan oleh mahasiswa kali ini adalah merekonstruksi solodaritas pergerakan, memulai gerakan mahasiswa yang lebih sistematis yang menepis fragmentasi wacana, menghindari fragmentasi gerakan demi menuju sinergitas bersama. Pergerakan mahasiswa harus dibangkitkan kembali sebagai pertanggungjawaban mahasiswa yang berani memulai Reformasi Indonesia.

Salam Perjuangan…

0 comments:

Posting Komentar