
-Pesan bagi Pejuang Peradaban-
Bangsa ini sudah lama tidur dalam buaian sang Ibu pertiwi,
Tak sadar bahwa negeri ini belum Merdeka seutuhnya,
Seakan-akan tak ada ancaman apa pun...
Tahukah Engkau..
Negeri ini sedang terjajah,
Banyak ketidakadilan yang menimpa rakyat miskin,
Banyak pemimpin kita yang menggerogoti uang rakyat,
Banyak anak bangsa yang tidak sekolah,
Banyak pemuda desa yang tak bekerja,
Hutang negara pun menumpuk tak terbayar..
Sampai kapan negeri ini menangis..
Wahai Engkau Pejuang Peradaban..
Negeri ini membutuhkan kontribusi nyatamu,
Janganlah hanya berdiam diri,
atau puas dengan suasana kampus yang seba mewah,
Sedangkan di luar sana,
Banyak saudara kita yang sengsara..
Benahi diri kalian,
Bekali dengan intelektual dan moral yang mapan,
Berkontribusilah dengan cerdas dan ikhlas,
Jadilah Pemimpin Bangsa yang Militan..
Karena Perubahan Negeri ini,
Kemapanan Bangsa ini,
ada di tangan kalian..
Salam Perjuangan !!
Selasa, 23 Desember 2008
Perubahan dan Kemapananlah yang Kami Inginkan !!!
Sabtu, 20 Desember 2008
Ada Apa dengan Cinta ?
ADA APA DENGAN CINTA ?
Cinta mungkin hanya sebuah kata yang tak akan pernah bermakna jika hanya diucap saja. Ini sangat erat dengan perasaan. Ketika hati berkata cinta…itu jauh lebih berharga daripada sejuta cinta yang hanya diucapkan Yang akan dibahas disini bukanlah cinta dari sebuah film romantis ataupun novel remaja. Bukan pula sebuah cinta antar insan manusia, tetapi jauh lebih mendalam dari itu semua yaitu Ada apa dengan Cinta … Cinta kita terhadap Indonesia ? Sedalam apakah Cinta kalian terhadap Bangsa Indonesia ? Bisakah kalian menjawabnya ….
Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu dijawab hanya perlu direnungkan. Kita renungkan hal – hal apakah yang pernah kita korbankan untuk Indonesia ? Dan adakah kita menyisakan sebagian kecil di dalam otak kita untuk memikirkan bangsa ini ?
Sewaktu kalian memberikan hormat terhadap merah putih dengan di iringi lagu kebangsaan Indonesia Raya pada waktu masa – masa sekolahan apa yang kalian rasakan ? Lelah ? Pegal atau bosan ? Coba sekarang kalian pandangi bendera merah putih yang berkibar? Pernahkah terbesit dalam pikiran kalian, Bagaimana prosesnya sehingga bendera itu bisa berkibar dengan bebasnya ? Yang pasti proses bendera itu bisa dikibarkan seperti ini bukan dari membelinya di pasar, tetapi dengan penuh perjuangan orang – orang dulu berhasil mengusir penjajah meski hanya bersenjatakan bambu runcing dan bertamengkan sebuah semangat, berjuta orang merelakan hidupnya untuk sebuah perjuangan. Demi sebuah kata yaitu ‘MERDEKA’ dan Bendera Merah Putihpun berkibar dengan semangat, darah dan air mata mengiringinya. Kita yang hanya sejenak untuk memberikan hormat pun merasa lelah, apa ini yang namanya cinta INDONESIA ?
BERSAMBUNG …
resume elt 20 desember 2008
Reformasi Birokrasi
Rama Raditya 0806337926
Teknik Industri
Reformasi Birokrasi
Apa pendapat teman-teman tentang birokrasi? Sebagian besar pasti akan menjawab rumit, pungli, lama, dan sebagainya. Hal-hal inilah yang akan kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari dalam mengurus SIM, KTP, STNK, passport, dan berbagai macam perizinan lainnya. Inilah salah satu potret buram birokrasi Indonesia. Sebenarnya birokrasi adalah hal yang baik. Menurut Weber, birokrasi itu mengatur hierarki autoritas, pemilihan pegawai, regulasi, impersonality, dan orientasi karier. Namun pelaksanaan birokrasi di Indonesia warisan Orde Baru masih menyimpan keburukan-keburukan berupa tidak professionalnya pegawai, jumlah birokrasi yang terlalu banyak, bahkan banyak pejabat yang menyalah gunakan jabatan. Oleh karena itu, sejak memasuki era reformasi, dimulailah suatu gerakan untuk mereformasi birokrasi Indonesia.
Menurut Mentri Pendaygunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi, secara ringkas, visi reformasi birokrasi adalah terwujudnya tata kepemerintahan yang baik (good governance). Sedangkan misi reformasi birokrasi adalah membangun, menata ulang,menyempurnakan, membina, dan menertibkan birokrasi pemerintahan, agar mampu dan komunikatif dalam menjalankan peranan dan fungsinya.Target dan sasaran reformasi birokrasi ada lima hal:
1. Terbentuknya birokrasi yang bersih
2. Birokrasi yang efisien dan efisien
3. Birokrasi yang transparan
4. Birokrasi yang melayani masyarakat dengan maksimal
5. Birokrasi yang terdesentralisasi
Reformasi birokrasi itu sendiri terfokus pada lima bidang:
1. Penataan kelembagaan dan penyederhanaan ketatalaksanaan
2. Peningkatan kapasitas SDM
3. Pencegahan dan pemberantasan KKN
4. Pengembangan pelayanan prima
5. Implementasi e-Government
Saat ini salah satu contoh departemen yang sudah melakukan reformasi birokrasi adalah departemen keuangan. Departemen ini mulai melakukan reformasi dibawah kepemimpinan Mentri Keuangan Sri Mulyani. Contoh yang paling spektakuler adalah 6.475 standard operating procedures (SOP), yang mengatur dengan rinci mekanisme pelayanan, lama pelayanan, serta berapa biaya pelayanan. Hal ini ditujukan untuk peningkatan pelayanan prima. Contohnya, pelayanan penerbitan surat perintah pencairan dana (SP2D) dijanjikan paling lambat satu jam setelah dokumen diterima lengkap, penerbitan NPWP dalam satu hari, sampai pelayanan bea cukai yang cepat. Untuk masalah kedisiplinan pegawai, depkeu mendenda pegawainya sebesar 600 ribu (that’s hurt) bagi yang terlambat walaupun cuma 1menit (Bapak saya kerja di depkeu). Selain itu reformasi renumerasi juga dilakukan dengan basis kinerja, sehingga kini terdapat 27 grade, dengan rentang terendah Rp 1.330.000 (grade 27) dan tertinggi Rp 46.950.000 (grade 1). Renumerasi yang cukup kompetitif berfungsi untuk mengurangi penyalahgunakan kekuasaan dan meningkat produktivitas pegawai.
Selain departemen keuangan, ada juga sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang sedang gencar melakukan reformasi birokrasi bernama Kabupaten Sragen. Dalam mewujudkan reformasi birokrasi dalam jajarannya, Pemkab Sragen melakukan beberapa langkah di antaranya :
1. Perubahan paradigma dilayani menjadi melayani. Sikap ambtenaar PNS diubah menjadi sikap melayani.
2. Mewujudkan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan dengan mengoptimalkan peran satuan kerja/dinas & inovasi kelembagaan. Misalnya : pembentukan Kantor Pelayanan Terpadu, Tim marketing, Tim Pemantau Fisik.
3. Pengelolaan Keuangan yang efisien dengan Memangkas kegiatan rutin yang tidak efisien
4. Desentralisasi kewenangan ke Kecamatan/desa melalui small management. Kelima, memanfaatkan IT untuk e-government.
5. Pemanfaatan TI untuk e-Government.
Seluruh pelayanan masyarakat dipusatkan di Kantor Pelayanan Terpadu (KPT). Dampak positif dari reformasi birokrasi di Sragen berupa peningkatan investasi karena mudahnya perijinan, semakin efisiennya perijinan ditandai dengan menurunnya waktu pelayanan, dan bahkan meningkatkan pendapatan asli daerah.
Departemen Keuangan sebagai departemen yang paling rumit se-Indonesia dan kabupaten Sragen telah membuktika keberhasilan mereka dalam melakukan reformasi birokrasi. Walaupun mengalami kendala dalam penerapannya, melalui reformasi birokrasi akan menciptakan birokrasi yang bersih, efisien, dan cepat sehingga meningkatkan pelayanan yang prima kepada masyarakat. Sanggupkah reformasi birokrasi ini diimplementasikan di seluruh Indonesia?
Mahasiswa dan survivalitas
By : M. Arif Nasrullah (0806456165)
Kita hidup di zaman yang serba sulit. Dimana setiap individu manusia harus berjuang mati-matian untuk tetap survive. Dimana beberapa orang masih memiliki pola pikir seperti ini : sekolah yang rajin - pinter - kerja - dapat uang untuk hidup. Indonesia banyak memiliki penduduk tipe seperti ini. For your information, pola pikir seperti itu tidak selamanya menjamin seseorang untuk tetap survive dalam kehidupan yang kejam ini.
Lantas sebenarnya pola hidup yang seperti apa yang kita butuhkan untuk dapat survive dalam hidup ini??
Banyak orang tua yang menginginkan anaknya mendapat pekerjaan dan sukses dalam karirnya. Beberapa dari mereka sering menasehati anaknya sbb :
"Nak kamu sekolah yang pinter ya! Nanti biar gampang cari kerja."
Pola pikir orang tua yang seperti ini dikatakan old-style dan tidak diikuti dengan pertimbangan mengenai perkembangan zaman saat ini (Zaman mereka tentunya berbeda dengan zaman kita). Pada zaman mereka jumlah penduduk tidak lebih banyak dibadingkan dengan jumlah lapangan kerja sehingga mereka yang berpendidikan tinggi dapat memperoleh pekerjaan dengan mudah. Sedangkan pada zaman kita, jangan harap mahasiswa yang bergelar sarjana mudah mendapat pekerjaan. Yang ada bahkan persaingan yang ketat untuk memperebutkan pekerjaan dengan gaji yang pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup (Dengan catatan suatu saat ketika perusahaan bangkrut, siap-siap saja dipecat!).
Mahasiswa harus mamahami kondisi ini dengan baik dan mencari solusi terbaik atas permasalahan ini untuk tetap dapat survive dalam kondisi apapun. Pola pikir old-style -tinggalkanlah- ganti dengan pola pikir yang lebih mantap dan menjanjikan.
Seperti yang kita ketahui, esensi dari pendidikan adalah melahirkan SDM yang mantap dan berkualitas serta mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, di Indonesia pendidikan seperti mengarahkan peserta didik untuk siap lepas landas bergelut di dunia kerja, bersaing menjual ijazah. Sementara, yang kita butuhkan adalah pendidikan kemandirian untuk dapat survive di dunia yang kejam ini. Kita menginginkan masa depan yang cerah dan terjamin.
Last but not least, saya dapat mengatakn bahwa gelar sarjana bagi seorang mahasiswa tidak dapat 100 % menjamin atas kesuksesannya kecuali diimbangi dengan pola pikir mandiri dan kemampuan 'leadership' yang mumpuni.